Aku bukan tunas dari bumi

Tapi sisa urat malam

Bukan prahara berakar

Tapi gerimis dalam kabut samar

yang tak sempat diseka bintang

Dicipta dari dendam gelap

Yang dililit simpuh keheningan berkafan abu

Rengkuhan itu hanya nafas sehelai

Di hadapan Dewa yang menangkupkan telinganya

Ditidurkan kebisuan

Jejak yang diangkat ajal

Ditanggalkan api oleh suara yang menyesal

Yang menampar sajak hingga mendidih

Menggelegak disumpahi waktu

 

Mengapa semesta bersiasat dalam susut suara?

Tiada aku bertanya

Sebab aku bukan tanah bersulur

Melainkan rintik yang meratap dalam limbung kalang kabut

Dalam hujan halimun menari lunglai

Ditimang samudra sunyi bersarung sutra sesayat

 

Cinta..

Keramat yang dirapal embun sangkal

Bukan memeluk

Tapi menyusup bagaikan sisa ampas dupa

Mengoyak benakku dengan kidung busuk keabuan

Betapa sakitnya… menghujam dalam

Merintih mendesir

Lebih nyeri dari hati tercerabut

Betapa parahnya… pedihnya melebihi ruh tertanggal

 

Cinta..

Racun dari embun terkutuk

Sekadar bisik yang tak dibenarkan langit

Adakah cela bagi cinta?

Mengapa bangga duduk di singgasananya?

Di balik tatap mata yang enggan

Mengapa dia hadir

Kusanjung laksana surya

Kini mengejawantah menjadi tepuk bahu

Dari sentuh palsu yang nyaris menghina

Oh… oh…. Adakah yang lebih memalukan

Dari mengangkat langit

Justru menginjakkanmu sebagai alas?

 

Harapan…

Kupu-kupu dari tempurung nisan

Yang menari di antara reruntuhan tak berbentuk

Kakinya patah, berliuk di rekah senja tanpa tulang

Sayapnya bukan pelipur, tapi menusuk 

Bak sisik belati

Menyisir kulitku yang telah kulepas

Menjilat luka seperti kobar

Agar ku tak menangis lagi

Kebersamaan cuma amanat bayu

Digamit kelam, Ia tak tinggal

Hanya lewat dibatalkan Ilahi

Tak berjejak selain lolongan

Dicabut sebelum bernapas

Janji yang digugurkan

Bahkan sebelum sempat disebut

Langkahku adalah tulah

Yang dipendam dalam lipatan pusara

Menjerang rintih menjadi belatung

Menggeliat tapi tak bernyawa

 

Dan Engkau,

Apa makna diamMu?

Yang kugamit dalam kesunyian yang rengkah

Namun tak pernah luluh

Seperti prasasti

Kekal dan dingin

 

Apa tafsir diamMu?

Yang kusebut dalam benak retak

Dicium seribu lidah, diketuk selaksa Doa

Namun tak pernah terbuka

Bahkan bagi airmata yang membungkuk paling dalam

 

Kumohon kepada Engkau….

Penghuni diam paling luhur

Aku menyebutMu seperti menyebut nyawa

Di tenggorokan terakhir seorang pecundang

Agar bisuMu tak lagi membatu

Berikanlah aku celah cahaya

Dari tubuhMu yang purba

Sebelum jiwaku dikaburkan

Oleh tangis yang tak mengizinkan pagi

Berikan aku retakan….. hanya satu doaku… 

Sebelum malam benar-benar menelanku

Dan menutup kisahku