Rembulan pucat lelah menggigil
Kala candra memar dalam gelung angin tua
Di bawah teduh langit merintih sunyi
Semasa awan belum bicara
Senja belum menangis
Terlahir aku, anak si dingin malam
Kupeluk tubuh tiada berberkah
Tiada satu mata yang menafsir wujud
Serupa silau yang bukan cahaya
Tergulung jaring para pemuja kelam
Patahlah langit kala nama diputus
Berdenyut bukan disebut panggil
Lidahnya berkobar api kutuk
Tiap huruf adalah serapah, tiap jeda adalah hukuman
Berjubah pelintas gulita, yang ditinggal langit
Yang tak sudi disandang siapa pun kecuali aku
Bersisa gemetar naskah usang
Ditulis oleh ngilu tanpa ampun
Berjalan di atas abu para pujangga
Merapal bait yang kutinggalkan
Hadirlah dia, jelma dewi kelopak mimpi retak
Sumringah bak kidung membelai bara
Bersolek janji gaib, bayang Arunika
Datang tanpa desah, tanpa rupa
Menelusup pelan, hening bagai desir kabung
Lirih, berarak semesta lumpuh
Abadi serupa segara biru namun kering
Bermandi kabut maya rapuh
Dihirup jiwa, berhembus bak derik nyanyi lupa
Aku, abdi reruntuhan diri
Pengemban makna tiada dikenang
Kupahat cemas, bersaji simpuh sembah
Kuserahkan rahasia darah dan denyut
Segala nafas kutakar jadi pelita
Kubiar jiwaku ditimba tak bersisa
Harap kelak sebut aku dalam diamnya
Dua kali purnama tersipu suram
Bagai seribu tahun nestapa
Meruap bagai asap dupa murka tak berestu
Tiada wangi, tak berhelai liriknya
Dan patahlah kala niscaya menyilang arah
Lentik itu bukan benih, tumbuh lalu rebah
Bergemercing nyaring di ladang jauh
Berlenggang di atas serpih, dalam garang
Berayun di ranting yang tak kupangku
Dalam sabda terbalik, dia semat rekah senyum
Dan aku, si bayang tak bertulang
Ditinggal bagai tanah membatu
Merepih sepi yang kian berdarah
Hembus angin yang tak layak disebut
Bak luka yang tak mampu menjerit
Kini lebih perih dari sebelum mati
Wahai Sang langit
Berikan adil bagi jiwa yang tak lagi utuh
Bijak yang bukan buat dipahami, tapi diampuni
Jangan tampik kan wajahMu dari sabda luka
Karna di sanalah tangisan tak terbaca
Ku sembah bukan untuk dikasihi
Hanya harap, aku tersirat pernah ada
Walau bukan dalam bangga