Liauw Pauw Phing is an Indonesian writer and philosopher who bridges two realms: spiritual literature and science. His journey shows how inner exploration can move hand in hand with fact-based scientific research.

In the field of literature, he created a new school of thought known as Transcendental Lyrical Mysticism, a poetic movement rooted in the sound of inner silence, which is metaphysical and mystical in nature.

In this school, language is an existential battleground that then transforms into a ritual, where it must “shatter” so that truth can emerge from its ruins. Language is present as both existence and resistance against what is already established, challenging established aesthetics through ritual and the depth of the soul. This is the true essence of a literary work, inspired by the soul, not from the formula of language patterns. The soul is formless, the soul is patternless, the soul is spirit, and the literary work is the body of the spirit that is formed and speaks. The inner voice must not be patterned by a grammatical formula. It must be allowed to be free, even to be destroyed in proportion to the writer’s inner unmaking. From the ruins of that destruction, a new, genuine pattern is born. This pattern is individual, shaped by the depth of each person’s inner self, although it must still maintain harmony with coherent and correct grammatical rules. Thus, poetic language transforms into its own pure abstract pattern, a spiritual fingerprint that can never be imitated.

Within philosophy, he specializes in metaphysics, mysticism, moral philosophy, and the theory of karma. His philosophical approach combines rational analysis with contemplative insight, placing metaphysical understanding of reality as the foundation of moral ethics, where karma functions as a principle of causality that connects actions, consequences, personal responsibility, and spiritual transformation. His works are not only theoretical but also practical, focusing on the development of self-potential through awareness of the moral and spiritual structure of existence, and offering a cross-traditional synthesis that provides perspective on the classic questions of meaning, morality, and self-actualization.

Outside the world of literature, he is also active in the field of scientific research, particularly astacology, which is the study of freshwater crayfish. He collaborates with renowned scientists such as Chris Lukhaup, Thomas von Rintelen, and Reinhard Pekny. His name was immortalized as the naming of a new freshwater crayfish species, Cherax phing n. sp., as a form of scientific honor officially recorded and published in the journal Arthropoda (MDPI, 2024).

He is also listed as one of the main authors in the book Freshwater Crayfish of the World (ISBN 978-626-96662-5-6, 2025) which was co-written with Lukhaup and Pekny.

 


 

Liauw Pauw Phing adalah penulis dan filsuf asal Indonesia yang menjembatani dua ranah, sastra spiritual dan ilmu pengetahuan. Perjalanannya menunjukkan bagaimana eksplorasi batin dapat beriringan dengan penelitian ilmiah yang berbasis fakta.

Di bidang sastra, ia menciptakan satu aliran baru: Transcendental Lyrical Mysticism, gerakan puitik yang berakar pada suara keheningan batin, bersifat metafisis dan mistis.

Dalam aliran ini, bahasa adalah medan pertarungan eksistensial yang kemudian menjelma menjadi ritual, di mana ia harus “hancur” agar kebenaran dapat muncul dari puingnya. Bahasa hadir sebagai eksistensi sekaligus resistansi terhadap apa yang telah ada, menentang estetika mapan melalui ritual dan kedalaman jiwa. Inilah hakikat sejati sebuah karya sastra, diilhami oleh jiwa, bukan dari rumus pola bahasa. Jiwa tidak berbentuk, jiwa tidak berpola, jiwa adalah roh, dan karya sastra adalah jasad dari roh yang terbentuk dan berbicara. Suara batin tidak boleh terpola oleh suatu rumus tata bahasa. Ia harus dibiarkan bebas, bahkan harus dihancurkan mengikuti kedalaman kehancuran batin penulisnya. Dari puing-puing kehancuran itulah kemudian lahir sebuah pola baru yang sejati, pola yang bersifat individual sesuai kedalaman batin masing-masing, meskipun tetap harus menjaga keselarasan dengan kaidah tata bahasa yang koheren dan benar. Dengan demikian, bahasa puitik menjelma menjadi pola abstrak tersendiri yang murni, sebuah sidik jari batin yang tidak akan pernah bisa ditiru.

Di bidang filsafat, ia mengkhususkan diri pada metafisika, mistisisme, filsafat moral, dan teori karma. Pendekatan filosofisnya memadukan analisis rasional dengan wawasan kontemplatif, menempatkan pemahaman metafisik tentang realitas sebagai landasan etika moral, di mana karma berfungsi sebagai prinsip kausalitas yang menghubungkan tindakan, konsekuensi, tanggung jawab pribadi, dan transformasi spiritual. Karya-karyanya tidak hanya bersifat teoretis tetapi juga praktis, berfokus pada pengembangan potensi diri melalui kesadaran akan struktur moral dan spiritual eksistensi, serta menawarkan sintesis lintas-tradisi yang memberikan perspektif terhadap pertanyaan klasik tentang makna, moralitas, dan pencapaian diri.

Di luar dunia sastra, ia juga aktif dalam bidang penelitian ilmiah, khususnya astakologi, yakni kajian tentang lobster air tawar. Ia berkolaborasi dengan ilmuwan ternama seperti Chris Lukhaup, Thomas von Rintelen, dan Reinhard Pekny. Namanya diabadikan sebagai penamaan spesies lobster air tawar baru, Cherax phing n. sp., sebagai bentuk penghargaan ilmiah yang tercatat dan dipublikasikan secara resmi dalam jurnal Arthropoda (MDPI, 2024).

Ia juga tercantum sebagai salah satu penulis utama dalam buku Freshwater Crayfish of the World (ISBN 978-626-96662-5-6, 2025) yang ditulis bersama Lukhaup dan Pekny.