Ketika Sitasi Menjadi Topeng Ketidakmampuan Berpikir

Teknologi pencarian informasi telah mencapai titik yang mengagumkan sekaligus mengkhawatirkan. Kita hidup di era yang memungkinkan siapa saja menemukan referensi dengan mengetik beberapa kata kunci. Bahkan naskah kuno yang fisiknya sudah lapuk di gudang perpustakaan bisa muncul dalam layar. Semua terasa mudah dan praktis. Terlalu mudah.

Kemudahan ini membawa berkah sekaligus bencana tersembunyi. Dalam ranah penulisan ilmiah dan tesis, sesuatu yang fundamental telah bergeser tanpa banyak orang menyadarinya. Artikel dan penelitian bukan lagi cerminan pemikiran orisinal penulis. Banyak karya kini lebih mirip katalog kutipan yang disusun rapi dengan jarak spasi sempurna dan format sitasi yang mengikuti standar internasional. Terlihat meyakinkan di permukaan tetapi hampa di dalam.

Pergeseran ini menciptakan fenomena absurd dalam dunia penulisan dan penelitian. Penulis berlomba menjadi kolektor kutipan terbaik. Mereka mengukur kualitas karya dari jumlah referensi yang bisa ditampilkan. Semakin banyak nama peneliti terkenal yang dikutip maka semakin tinggi nilai yang didapat. Semakin tebal daftar pustaka maka semakin besar kemungkinan lolos kurasi.

Logika ini telah membalik hakikat penulisan karya ilmiah. Yang seharusnya menjadi penopang malah menjadi fondasi utama. Yang seharusnya menjadi pelengkap malah menjadi substansi. Penilaian bergeser dari kualitas argumen dan kedalaman analisis menuju kemampuan mengumpulkan dan menyusun kutipan. Kemampuan berpikir kritis digantikan oleh keterampilan menyalin dan menyadur.

Saya menyaksikan sendiri bagaimana penulis yang menghasilkan pemikiran orisinal tetapi minim kutipan dianggap kurang berbobot. Sebaliknya, karya yang hampir seluruhnya berisi kompilasi kutipan dari berbagai sumber dipuji sebagai tulisan berkualitas tinggi. Standar penilaian telah terdistorsi.
Originalitas kalah oleh kuantitas referensi.

 

Makna Sitasi yang Terdistorsi

Pada dasarnya sitasi memiliki fungsi yang jelas dan masuk akal. Ketika seorang penulis menyatakan fakta hasil penelitian orang lain atau mengadopsi teori yang sudah mapan maka referensi perlu dicantumkan. Ini bentuk kejujuran intelektual sekaligus cara membangun argumen di atas fondasi pengetahuan yang sudah terverifikasi. Sitasi adalah alat untuk memperkuat klaim dengan bukti empiris yang sudah ada.

Tapi fungsi ini telah berubah total dalam praktik saat ini. Sitasi bukan lagi alat pendukung melainkan menjadi tubuh utama karya itu sendiri. Penulis bukan lagi kreator ide melainkan kurator kutipan. Mereka menyusun potongan pemikiran orang lain menjadi mozaik yang tampak koheren dari luar padahal tidak ada benang merah pemikiran orisinal yang menghubungkan semua bagian itu.

Saya bertanya dalam hati ketika membaca karya yang penuh dengan kutipan. Dimana letak pemikiran penulis sendiri? Apa kontribusi intelektual yang dia berikan? Atau dia hanya pandai menggunakan mesin pencari dan copy paste dengan format yang benar? Pertanyaan ini semakin mendesak ketika saya melihat tesis penulis yang hampir setiap paragrafnya diakhiri dengan kurung berisi nama dan tahun.

Distorsi ini menciptakan ilusi kredibilitas. Pembaca dan penilai melihat deretan nama peneliti terkenal lalu menganggap karya itu kredibel tanpa benar-benar mengevaluasi apakah argumen penulis sendiri solid atau tidak. Sitasi menjadi tameng yang melindungi penulis dari tuntutan untuk berpikir secara mendalam dan orisinal.

 

Kebohongan yang Terselubung

Saya tidak percaya seseorang benar-benar membaca dan memahami semua buku yang dia kutip dalam tulisannya. Terutama ketika saya melihat daftar pustaka dengan puluhan judul buku tebal dan ratusan artikel jurnal. Lebih mencurigakan lagi ketika penulis bisa mencantumkan nomor halaman spesifik dari setiap kutipan. Apakah dia benar-benar membaca semua buku setebal ratusan halaman lalu mengingat persis di halaman berapa, bahkan paragraf tertentu ada kalimat yang cocok untuk argumennya? Alangkah jeniusnya.

Pengalaman pribadi saya membaca buku memberikan perspektif berbeda. Ketika saya membaca satu buku secara mendalam maka saya memahami esensi isi buku itu. Saya tahu argumen utamanya, alur pemikirannya, dan kesimpulannya. Tetapi saya tidak mengingat halaman spesifik dimana penulis menyatakan sesuatu. Saya manusia bukan mesin scanner yang bisa merekam setiap halaman dengan nomor urutnya.

Ketika saya perlu merujuk ide dari buku yang sudah saya baca maka saya menulis ulang dengan bahasa saya sendiri berdasarkan pemahaman saya. Saya tidak perlu mencari halaman spesifik karena pemahaman saya sudah terinternalisasi. Inilah cara pembacaan yang sebenarnya. Membaca untuk memahami bukan untuk mengumpulkan kutipan.

Realitas saat ini berbeda. Banyak penulis menggunakan mesin pencari untuk menemukan kutipan yang mendukung argumen mereka. Mereka mengetik kata kunci di Mesin Pencari atau database perpustakaan digital lalu menyalin kutipan lengkap dengan nomor halaman. Mereka tidak membaca bukunya secara utuh. Mereka hanya membaca paragraf yang muncul di hasil pencarian. Ini bukan scholarship yang sebenarnya melainkan teknik kompilasi digital.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika praktik ini menjadi norma yang diterima bahkan diharapkan. Penulis yang menulis dengan jujur berdasarkan pemahaman mereka sendiri tanpa mengutip setiap kalimat justru dianggap kurang referensinya. Sementara penulis yang pandai menggunakan mesin pencari untuk mengumpulkan kutipan dipuji karena memiliki referensi lengkap.

 

Penilai yang Kehilangan Kompas

Masalah ini tidak hanya ada di pihak penulis tetapi juga di pihak penilai. Banyak dosen pembimbing dan penguji yang menilai kualitas karya terutama dari jumlah dan kredibilitas referensi yang dikutip. Mereka tidak punya waktu atau kemampuan untuk mengevaluasi kualitas argumen penulis secara mendalam. Lebih mudah melihat daftar pustaka dan mengecek apakah nama-nama peneliti terkenal ada disana.

Saya membayangkan seorang penguji yang membaca halaman demi halaman penuh dengan kutipan. Dia melihat nama Foucault, Derrida, Bourdieu, atau tokoh terkenal lainnya bertebaran di footnote. Dia merasa yakin bahwa karya ini berbobot karena mengutip pemikir besar. Tetapi apakah dia benar-benar memahami argumen yang dibangun penulis? Apakah dia mengevaluasi apakah kutipan-kutipan itu relevan dan digunakan dengan tepat?

Dalam banyak kasus penilai juga menggunakan mesin pencari untuk memverifikasi kutipan. Mereka menyalin kalimat dari tesis lalu mengetiknya di Mesin Pencari untuk mengecek apakah kutipan itu akurat. Jika cocok maka mereka menganggap karya itu kredibel. Proses penilaian berubah menjadi verifikasi teknis bukan evaluasi intelektual.

Seharusnya seorang penilai yang kompeten bisa menilai kualitas argumen tanpa perlu mengecek setiap kutipan ke sumbernya. Jika dia sudah membaca karya Foucault misalnya maka dia tahu apa posisi Foucault tentang kekuasaan dan pengetahuan. Ketika penulis mengutip Foucault dalam konteks tertentu maka penilai bisa langsung menilai apakah penggunaan kutipan itu tepat atau tidak berdasarkan pemahamannya sendiri tentang pemikiran Foucault.

Tetapi realitasnya banyak penilai tidak punya pemahaman mendalam tentang teori dan konsep yang dikutip penulis. Mereka mengandalkan mesin pencari untuk memverifikasi. Ini menciptakan siklus kebodohan yang mengabadikan dirinya sendiri. Penilai yang tidak kompeten menuntut penulis untuk menyediakan kutipan lengkap dengan nomor halaman bukan karena mereka peduli dengan integritas penulisan tetapi karena mereka butuh alat bantu untuk menutupi keterbatasan mereka.

 

Alasan Sebenarnya di Balik Tuntutan Sitasi

Saya ingin menunjukkan apa yang sebenarnya terjadi di balik fenomena ini. Ambil contoh seorang guru yang pernah membaca buku karya tokoh tertentu. Ketika dia menemukan tesis penulis yang berisi kalimat pendukung bahwa menurut tokoh tersebut dia sudah melakukan riset tertentu maka guru itu paham bahwa memang tokoh itu membuat riset tentang hal itu. Dia tidak perlu mengingat halaman berapa kutipan itu berada karena pemahaman mendalam yang dia miliki sudah cukup untuk mengenali kebenaran itu.

Tetapi di sini letak permasalahannya. Penilai yang tidak punya pemahaman mendalam tidak bisa mengenali kebenaran dengan cara itu. Mereka butuh halaman spesifik untuk memverifikasi. Pencantuman nara sumber sampai detail seperti kolektor saduran itu sebenarnya memudahkan penilai untuk mengatasi kebodohan mereka sendiri saat membuktikan tesis itu benar atau tidak. Dengan halaman yang jelas mereka bisa membuka buku dan mengecek.

Ini memberikan jalan kepada penulis untuk menjadi berkelas dengan cara menyadur karya orang lain. Penulis tidak perlu membuktikan pemikiran orisinal mereka. Mereka cukup mengumpulkan kutipan detail dengan halaman yang tepat lalu disusun rapi. Penilai yang lemah akan puas karena mereka bisa dengan mudah memverifikasi setiap klaim. Yang dilaluinya adalah evaluasi terhadap kualitas pemikiran penulis sendiri.

Saya mungkin sinis dan keras mengkritik tetapi ini memang fakta di lapangan terutama dalam penulisan karya ilmiah. Saya bukan melawan arus tetapi saya mengingatkan. Ini bentuk penyadaran tentang hakikat isi sebuah karya yang telah bergeser maknanya dalam sistem penilaian saat ini. “Buah dinilai dari rasa isinya bukan dari ketebalan kulitnya walau kulit itu tetap diperlukan untuk melindungi daging.”

 

Dampak Sistem yang Terwariskan

Masalah yang paling parah adalah bahwa kemampuan buruk ini akan terwariskan kepada generasi di bawahnya. Penilai yang tidak kompeten saat ini akan menjadi pembimbing bagi generasi penulis berikutnya. Mereka akan mengajarkan apa yang mereka tahu tentang cara menilai dan menghasilkan karya ilmiah. Generasi yang lebih muda akan belajar bahwa kualitas karya diukur dari jumlah kutipan bukan dari kualitas pemikiran. Mereka akan belajar bahwa menjadi penulis hebat berarti pandai mengumpulkan referensi dan menemukan halaman spesifik di buku yang tebal.

Ketika generasi itu menjadi penilai mereka akan melakukan hal yang sama. Mereka akan menuntut penulis di bawahnya untuk menyediakan kutipan lengkap dengan halaman yang tepat. Mereka juga tidak akan punya kemampuan untuk mengevaluasi kualitas argumen secara mendalam karena mereka sendiri tidak pernah diajarkan untuk berpikir dengan cara itu. Siklus ini akan terus berputar dan membuat sistem semakin rusak dari waktu ke waktu.

Penilai karya seharusnya berkembang, tetapi mereka tidak berkembang. Mereka hanya berubah menjadi teknisi yang mengecek tata bahasa dan verifikator bahwa kutipan itu benar-benar ada di sumbernya. Ini bukan pekerjaan penilai yang kompeten. Penilai yang kompeten harus berpikir dan mendalami apa yang mereka periksa. Mereka harus memahami konsep, teori, dan argumen yang diajukan penulis. Mereka harus punya pengetahuan luas tentang bidang yang mereka nilai sehingga bisa mengevaluasi apakah kontribusi penulis itu orisinal dan bermakna.

Tetapi sistem yang ada sekarang tidak menuntut hal itu. Sistem memberi penghargaan kepada penilai yang teknis bukan kepada penilai yang pemikir. Penilai tidak perlu memahami konsep yang dikutip selama dia bisa memverifikasi bahwa kutipannya benar. Penilai tidak perlu mengevaluasi relevansi kutipan selama dia bisa mengecek sumbernya. Inilah yang membuat sistem terus menghasilkan penilai yang tidak kompeten dari generasi ke generasi.

 

Karya Orisinal Sebagai Anomali

Dalam sistem yang sudah terdistorsi ini maka karya orisinal yang benar-benar inovatif justru menjadi anomali yang dicurigai. Ketika seorang penulis menghasilkan pemikiran baru yang belum pernah dibahas orang lain maka dia kesulitan menemukan referensi untuk mendukung argumennya. Bukan karena argumennya lemah tetapi karena argumen itu memang baru dan belum ada literatur yang membahasnya.

Dalam logika penulisan yang sehat maka karya seperti ini seharusnya mendapat apresiasi tertinggi. Ini adalah kontribusi pengetahuan baru yang akan menjadi referensi bagi peneliti lain di masa depan. Tetapi dalam praktik saat ini karya seperti ini justru ditolak karena dianggap kurang kredibel. Tidak ada sitasi yang mendukung maka dianggap tidak valid.

Saya pernah membaca artikel tentang fenomena sosial kontemporer yang ditulis dengan analisis tajam dan perspektif segar. Penulis menggunakan kerangka berpikir sendiri yang dikembangkan dari pengamatan langsung dan refleksi mendalam. Tulisan itu nyaris tidak mengutip peneliti lain karena memang belum ada yang menulis tentang fenomena itu dengan cara seperti itu. Tetapi artikel itu ditolak karena dianggap kurang referensi teoretis.

Ironi ini menunjukkan betapa sistemnya sudah rusak. Yang seharusnya didorong malah dihambat. Yang seharusnya diapresiasi malah ditolak. Penulis yang berani berpikir di luar kerangka yang sudah ada justru terhukum karena tidak mengikuti konvensi mengutip yang sudah mapan.

Jika semua orang hanya mengutip karya yang sudah ada maka dari mana datangnya pengetahuan baru? Jika semua karya penelitian hanya berisi kompilasi kutipan maka siapa yang akan menghasilkan pemikiran orisinal yang menjadi bahan kutipan untuk generasi berikutnya? Pertanyaan ini menunjukkan absurditas dari sistem yang sekarang berlaku.

Ketika seorang penulis menghasilkan karya yang benar-benar orisinal maka karya itu seharusnya menjadi sumber yang dikutip orang lain di masa depan. Inilah siklus perkembangan pengetahuan yang sehat. Setiap generasi membangun di atas fondasi yang sudah ada tetapi juga menambahkan lantai baru yang menjadi fondasi bagi generasi berikutnya.

Tetapi siklus ini terputus ketika semua orang hanya mengutip tanpa menghasilkan pemikiran baru. Seperti bangunan yang terus menambah fondasi tetapi tidak pernah membangun lantai baru. Hasilnya adalah tumpukan batu yang tidak berbentuk dan tidak berguna.

 

Mengubah Paradigma Penilaian

Perubahan harus dimulai dari paradigma penilaian. Penilai harus kembali fokus pada substansi argumen bukan pada jumlah kutipan. Sebuah karya harus dinilai dari kedalaman analisis, koherensi logika, dan originalitas pemikiran bukan dari seberapa banyak nama peneliti terkenal yang dikutip.

Sitasi tetap penting tetapi fungsinya harus dikembalikan pada proporsi yang tepat. Kutipan harus digunakan untuk mendukung klaim faktual yang memerlukan verifikasi atau untuk menunjukkan bahwa penulis memahami konteks diskusi ilmiah yang sudah ada. Tetapi sitasi tidak boleh menjadi pengganti pemikiran orisinal penulis.

Saya mengusulkan agar dalam penilaian karya penelitian maka bobot terbesar harus diberikan pada bab-bab dimana penulis mengembangkan argumen sendiri. Analisis, interpretasi, dan sintesis yang dilakukan penulis harus menjadi fokus utama. Bagian referensi yang berisi ringkasan penelitian terdahulu boleh ada tetapi tidak boleh mendominasi keseluruhan karya.

Penilai juga harus memiliki kompetensi yang memadai di bidang yang dinilai. Seorang penguji tidak seharusnya mengandalkan mesin pencari untuk memverifikasi setiap kutipan. Dia harus punya pemahaman sendiri tentang teori dan konsep yang relevan sehingga bisa menilai apakah penulis menggunakan referensi dengan tepat atau tidak.

Jika penilai tidak punya kompetensi untuk menilai suatu topik maka dia harus jujur mengakuinya dan tidak menerima tugas sebagai penguji. Ini lebih terhormat daripada berpura-pura kompeten sambil diam-diam mengandalkan mesin pencari untuk mengecek setiap klaim yang dibuat penulis.

 

Mendidik Penulis yang Sesungguhnya

Perubahan juga harus terjadi di tingkat pembimbingan dan pembelajaran. Penulis harus diajarkan bahwa tujuan utama menulis karya ilmiah adalah mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan menghasilkan pemikiran orisinal. Sitasi adalah alat bukan tujuan. Kemampuan mengutip dengan format yang benar itu penting tetapi jauh lebih penting adalah kemampuan untuk menganalisis, menafsirkan, dan mensintesis informasi.

Dosen pembimbing harus mendorong penulis untuk mengembangkan argumen sendiri bukan mengkompilasi kutipan orang lain. Ketika penulis mengajukan outline untuk tulisan atau tesis maka pembimbing harus bertanya bukan berapa banyak referensi yang akan digunakan tetapi apa argumen utama yang akan dikembangkan dan bagaimana argumen itu akan dibangun.

Proses bimbingan harus fokus pada diskusi substansi bukan pada teknis sitasi. Pembimbing dan penulis harus berdiskusi tentang ide, konsep, dan argumen. Mereka harus berdebat tentang interpretasi dan perspektif. Diskusi tentang format kutipan bisa dilakukan di akhir ketika substansi sudah solid.

Penulis juga perlu dibebaskan dari tekanan untuk mengutip setiap kalimat yang mereka tulis. Jika mereka sudah membaca dan memahami suatu literatur maka mereka harus didorong untuk menulis dengan bahasa sendiri berdasarkan pemahaman mereka. Tidak perlu mencantumkan kutipan langsung dengan nomor halaman kecuali memang diperlukan untuk menunjukkan bahwa ide tertentu berasal dari peneliti tertentu.

 

Kembali pada Esensi Penulisan

Penulisan karya ilmiah pada esensinya adalah proses intelektual untuk mengeksplorasi pertanyaan, menganalisis fenomena, dan menghasilkan pemahaman baru.

Saya menulis artikel ini bukan untuk menentang penggunaan sitasi secara keseluruhan. Saya menulis untuk mengingatkan bahwa sitasi harus kembali pada fungsi aslinya sebagai pendukung bukan sebagai pengganti pemikiran orisinal.

Perubahan tidak akan terjadi dengan sendirinya. Diperlukan kesadaran kolektif dari penulis, pembimbing, penilai, dan institusi penelitian untuk mengubah paradigma yang sudah terlanjur mengakar.

Saya berharap artikel ini menjadi awal diskusi yang lebih luas tentang bagaimana kita menilai dan menghasilkan karya penelitian. Saya berharap akan ada lebih banyak penulis yang berani menulis dengan pemikiran sendiri dan lebih banyak penilai yang menghargai originalitas di atas kuantitas referensi. Hanya dengan cara itulah dunia penulisan bisa kembali pada jalur yang seharusnya dan menghasilkan karya yang benar-benar bermakna.

Janganlah sitasi menguyah satu karya, ibarat “Taring Yang Mengigit Lidahnya Sendiri”.